Pernah merasa Reader bahwa kebahagiaan itu terlalu singkat untuk dirasakan? Kenapa euphoria kebahagian itu hanya sekejap, dan berangsur-angsur hilang dan kembali digantikan perasaan datar dan rapuh, tidak semangat. Aku bertanya-tanya, betapa bahagianya menjadi makhluk kecil yang belum mengerti akan bagaimana berputarnya dunia, yang disebut sebagai seorang anak. Mereka selalu semangat dan bahagia baik ada maupun tiada alasan. Pernah mendengar anak tujuh tahun berkata,” Aku ga semangat. Aku ga mood.”? Kalau pernah, mungkin anak itu meniru perkataanku saat aku memaksanya untuk berkata seperti itu.
Andai kita menjadi makhluk dengan perasaan seperti anak-anak, selalu tertarik akan segala hal, bersemangat, can be fun with no reasons, pasti akan menyenangkan.
Pertengahan Januari, aku merasakan hari itu akan terasa beda. Sesuatu yang telah menggangguku selama beberapa hari terakhir dengan potongan-potongan mimpi kecemasan yang diakhiri dengan kesadaran penuh prasangka. Sebuah jawaban yang akan ku dapat di sekolahku, di kelasku.
Berawal dari sebuah hari. Yang bagiku hari itu merupakan hari yang berbeda dari tujuh hari lainnya, seperti hari kedelapan dalam satu minggu yang hanya akan ada dalam satu putaran waktu tertentu. Hari itu di kelas, dunia berputar layaknya hari-hari sebelumnya, berputar bukan layaknya bumi dan rotasinya, tetapi layaknya mur dengan bautnya yang berputar sekaligus bergerak ke atas, dan aku berada menjadi ulirnya, ikut berputar, berpegang dengan erat pada sendi-sendinya, berusaha meraih nafas lebih di sana. Di sana, di rumah kedua yang memberikan lebih banyak luapan emosi dan perasaan daripada rumah pertama selama tiga tahun terakhir, aku menunggu sesuatu untuk datang. Apa.
Seorang perempuan yang adalah seorang guru, masuk ke dalam rumah keduaku. Putaran dunia berhenti sejenak, kami para pengejar mimpi terdiam dan terbangun dari kegiatan kami masing-masing, berpikir, menggambar huruf-huruf, mencerna buku atau hanya sekedar menatap kosong penuh ketidakpastian, untuk mendengar apa yang hendak ia ucapkan pada kami. Dengan penuh keyakiaan dan ritme yang tetap ia mengumandangkan sebuah berita, akan adanya pendaftaran masuk higher world for us, the dreamer chasers, called University of Indonesia melalui jalur PMDK.
Sebagai pengejar mimpi tingkat tiga di dunia menengah atas, waktu kami menempati rumah ini sudah hampir habis. Kami harus mencari dunia lain tingkat berikutnya yang membawa kami menjadi satu langkah lebih dekat dengan impian kami, yaitu perguruan tinggi. Kami semua mempunyai satu kata satu tujuan untuk berusaha masuk ke sana. Tak terkecuali aku.
Aku adalah bagian dari masayarakat scientifique. Aku tidak brilian dalam menjadi orang scientifique, bukan makhluk tercerdas yang berjalan dengan dua kaki dan memakan memakai kedua tangan, bukan pula anak seorang pendeta yang berjalan dengan keanggunan dan menebarkan aroma-aroma imam, tetapi hal itu tidak mencegahku untuk terus berkarya dengan caraku, dengan bagaimana instingku menuntunku, dengan bagaimana tanganku bergerak dan kakiku berjalan, dan dengan cara bagaimana jantungku berdegup dan keringatku menetes. Tetapi untuk duniaku berikutnya, aku menolak untuk menjadi bagian dari masyarakat scientifique. Akan suatu idealisme dalam pribadi, yang merasa bahwa masyarakat scientifique itu akan membatasi diriku untuk berkembang. Aku lebih mencintai untuk menjalin relasi, menganalisis isu-isu sosial, mengembangkan kemampuan-kemampuan verbal dan soft skill, mengamati manusia-manusia lain yang dinamis, dan mencerna kondisi-kondisi dunia ini. Aku memutuskan hendak menjadi masyarakat socialize. As my wish to be A Great Ambassador, this path is right.
Bantingnya diriku menjadi masyarakat socializ, tidak cukup membuat pribadiku bangga dan merayakannya dengan pesta minuman memabukkan bersama teman-teman, dengan gelas-gelas berdenting dan alunan musik yang menenangkan jiwa. Aku menantikan diriku lebih, lebih berkembang dan lebih besar dan tegar. Aku percaya akan adanya satu tempat yang Tuhan telah sediakan untukku. Aku sendiri yang mensketsanya dengan tanganku. Semuanya telah kumiliki dalam dunia imajinasiku, dan satu persatu pintu imajinasiku terbuka menuju dunia nyata atas dorongan pribadiku.
Back to the reality, aku bertanya kepada si pembawa berita, akan adanya kemungkinan bagi aku untuk masuk menjadi masyarakat socialize UI. Sebagai aturan yang umum, apabila kita ingin mencari dunia perguruan tinggi melalui jalur PMDK, kita hanya boleh mendaftar sesuai dengan jenis masyarakat kita. Scientifique will be scientifique and socialize will be socialize. UI tidak pada umumnya. Sesuai dengan bunga tidurku, bagian Fisip UI memberikan semua golongan masyarakat untuk masuk. Bulls-eye.
Kesempatan telah memanggilku dengan keanggunannya. Aku merasa pantas untuk mengejar keindahan dan kenikmatannya. Ragu memang ada di dalam pikiran, tetapi keraguan berbuah tak ada saat ini. Aku membiarkan pikiranku berkelana ketika si pembawa berita sudah pergi. Memikirkan setiap kemungkinan. Hal ini pasti menyenangkan.
Kudatangi istana si pembawa berita, aku melibatkan diriku dalam hal ini. Aku mendapatkan potongan-potongan kertas yang harus kuisi dengan identitasku. Aku membawanya pulang. Aku berkata kepada Kekasih Ayah, Kekasih Ibu dan Kekasih Kakak. Mereka mengiyakan akan keputusanku tanpa ekspresi lebih. Siapa peduli. Aku mencari semua persyaratannya sendiri dan menyiapkannya dan dengan sedikit bantuan Kekasih Ayah, aku mampu mengumpulkan persyaratan-persyaratan pendaftaran tersebut esok paginya. Identitas, surat ini, surat itu, rapor, piagam, fotocopy blah blah blah. Aku telah menyiapkannya dengan seksama dan aku memilih FISIP Komunikasi sebagai targetku.
Seribu jalan menuju Roma. Kau bisa menggali tanah, jatuh dari langit, atau kau nisa bereinkarnasi dahulu untuk menjadi orang Roma. Untuk menjadi great Ambassador kita tidak harus belajar dahulu di jurusan Hubungan Internasional. Smart, good analizer, multiple tongues, Voila U can be Ambassador. The small bird also tells me that, Departemen Luar Negeri masih erat unsur nepotismenya dan peluang masuk kesana masih kecil untuk beberapa tahun ke depan. Dan aku mempunyai rencana yang lebih baik. Mahasiswa, Dosen, lalu jalur politik, rektor atau ambassador. How beautiful life it is! Jurusan komunikasi aku tepat bagi aku. Aku akan maksimalkan diriku di sana. Dan menunggu apa yang sudah aku punya dalam angan-angan menjadi kenyataan.
Diantara hari hariku yang kulalui, aku merasa takut, khawatir dan ragu. Aku membentuk diriku terlalu menggantungkan pada pmdk ini. Kebahagiaan apabila diterima di pmdk ini terlalu membuaiku. Aku khawatir, bagaimana bila tidak diterima ini, akan bagaimana relief-relief wajahku nanti? Gumpalan harapanku pasti akan pecah dan meracuni pembuluh darahku. Demam keraguan memperparah diriku dengan adanya orang-orang yang menebar omong kosong dalam telingaku.
Sembari menunggu jawaban dari sang penguasa, aku setia berdiri menunggu. Angin keraguan dan hujan ketakutan menerpaku, aku bertahan dan berpegang dengan Rosario dan Kekasih dan cinta-cintaku. Aku berterimakasih kepada teman-teman ku sesama pengejar mimpi yang membantu diriku untuk tenang. Heppy si pengejar Accountant/ Alchemist, Nio si pengejar Manager/ Superstar/ Zimbabwe President ( who we have plan that someday we made a company together), Chandra si pengejar Doctor/ Computist and all of my fellows yang membantu menjernihkan pikiran ketika aku mulai bingung dan ketakutan tak terkendali untuk menerima kenyataan yang akan datang. Ketulusan dan keikhlasan aku rasakan dari jamahan-jamahan suara kasihnya. Kalian baik adanya.
Satu bulan berlalu. Pengumuman yang berhari-hari belum kunjung datang membuatku hopeless. Aku sudah bersiap untuk meneruskan hidupku, mencari pesona kesempatan lain dan melupakan asa yang tersisa. Ternyata Tuhanku sang Gembala diriku, mencintaiku diriku. Aku dipanggil oleh sang Kepala Dunia, Bapak Widiarto. Ku datangi tempatnya ia berada dan dengan senyumnya yang meyakinkan dan dengan suaranya ia menyatakan aku lolos pmdk UI. Tuhan mewujudkan impianku.
Meledaklah diriku. Mulutku tidak bisa berhenti tersenyum. Nafasku tersengal-sengal akan kebahagian ini. Aku ingin melompat-lompat hingga aku bisa bergabung dengan kapas-kapas putih di langit. Aku gembira. Bahagia. Aku ingin berlari-lari membawa pita merah yang besar dan panjang melintasi padang rumput yang hijau sambil bersukaria. Andai ada segerombol kelompok sirkus melintas, aku pasti bergabung bergembira bersama. Aku sambut tangan-tangan penuh kasih sang Guru-Guru disertai sebingkis senyum. Aku ingin memeluk semua temanku. Aku ingin berbagi kebahagianku. Pengejar mimpi mengucapkan selamat kepadaku. Aku mencintai mereka. Aku ingin mengungkapkan kebahagianku bersama mereka, tetapi aku tak mau membuat mereka berpikir bahwa aku melambung terlalu jauh dari bumi. Tapi aku yakin mereka akan mengerti aku.
Itu adalah kado ulang tahun terbaik hingga saat ini. Enam hari sebelum ulang tahunku aku menerima rahmat dari sang Gembala yang aku sangat mencintainya. O God, my life is Urs. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Kekasih-Kekasihku. Dan Para Pengejar Mimpi yang aku tidak mau kehilangan.Semua yang aku anggap sahabat dirumah keduaku, semuanya. Teristimewa bagi kalian yang istimewa. U r my best.
Andai kita menjadi makhluk dengan perasaan seperti anak-anak, selalu tertarik akan segala hal, bersemangat, can be fun with no reasons, pasti akan menyenangkan.
Pertengahan Januari, aku merasakan hari itu akan terasa beda. Sesuatu yang telah menggangguku selama beberapa hari terakhir dengan potongan-potongan mimpi kecemasan yang diakhiri dengan kesadaran penuh prasangka. Sebuah jawaban yang akan ku dapat di sekolahku, di kelasku.
Berawal dari sebuah hari. Yang bagiku hari itu merupakan hari yang berbeda dari tujuh hari lainnya, seperti hari kedelapan dalam satu minggu yang hanya akan ada dalam satu putaran waktu tertentu. Hari itu di kelas, dunia berputar layaknya hari-hari sebelumnya, berputar bukan layaknya bumi dan rotasinya, tetapi layaknya mur dengan bautnya yang berputar sekaligus bergerak ke atas, dan aku berada menjadi ulirnya, ikut berputar, berpegang dengan erat pada sendi-sendinya, berusaha meraih nafas lebih di sana. Di sana, di rumah kedua yang memberikan lebih banyak luapan emosi dan perasaan daripada rumah pertama selama tiga tahun terakhir, aku menunggu sesuatu untuk datang. Apa.
Seorang perempuan yang adalah seorang guru, masuk ke dalam rumah keduaku. Putaran dunia berhenti sejenak, kami para pengejar mimpi terdiam dan terbangun dari kegiatan kami masing-masing, berpikir, menggambar huruf-huruf, mencerna buku atau hanya sekedar menatap kosong penuh ketidakpastian, untuk mendengar apa yang hendak ia ucapkan pada kami. Dengan penuh keyakiaan dan ritme yang tetap ia mengumandangkan sebuah berita, akan adanya pendaftaran masuk higher world for us, the dreamer chasers, called University of Indonesia melalui jalur PMDK.
Sebagai pengejar mimpi tingkat tiga di dunia menengah atas, waktu kami menempati rumah ini sudah hampir habis. Kami harus mencari dunia lain tingkat berikutnya yang membawa kami menjadi satu langkah lebih dekat dengan impian kami, yaitu perguruan tinggi. Kami semua mempunyai satu kata satu tujuan untuk berusaha masuk ke sana. Tak terkecuali aku.
Aku adalah bagian dari masayarakat scientifique. Aku tidak brilian dalam menjadi orang scientifique, bukan makhluk tercerdas yang berjalan dengan dua kaki dan memakan memakai kedua tangan, bukan pula anak seorang pendeta yang berjalan dengan keanggunan dan menebarkan aroma-aroma imam, tetapi hal itu tidak mencegahku untuk terus berkarya dengan caraku, dengan bagaimana instingku menuntunku, dengan bagaimana tanganku bergerak dan kakiku berjalan, dan dengan cara bagaimana jantungku berdegup dan keringatku menetes. Tetapi untuk duniaku berikutnya, aku menolak untuk menjadi bagian dari masyarakat scientifique. Akan suatu idealisme dalam pribadi, yang merasa bahwa masyarakat scientifique itu akan membatasi diriku untuk berkembang. Aku lebih mencintai untuk menjalin relasi, menganalisis isu-isu sosial, mengembangkan kemampuan-kemampuan verbal dan soft skill, mengamati manusia-manusia lain yang dinamis, dan mencerna kondisi-kondisi dunia ini. Aku memutuskan hendak menjadi masyarakat socialize. As my wish to be A Great Ambassador, this path is right.
Bantingnya diriku menjadi masyarakat socializ, tidak cukup membuat pribadiku bangga dan merayakannya dengan pesta minuman memabukkan bersama teman-teman, dengan gelas-gelas berdenting dan alunan musik yang menenangkan jiwa. Aku menantikan diriku lebih, lebih berkembang dan lebih besar dan tegar. Aku percaya akan adanya satu tempat yang Tuhan telah sediakan untukku. Aku sendiri yang mensketsanya dengan tanganku. Semuanya telah kumiliki dalam dunia imajinasiku, dan satu persatu pintu imajinasiku terbuka menuju dunia nyata atas dorongan pribadiku.
Back to the reality, aku bertanya kepada si pembawa berita, akan adanya kemungkinan bagi aku untuk masuk menjadi masyarakat socialize UI. Sebagai aturan yang umum, apabila kita ingin mencari dunia perguruan tinggi melalui jalur PMDK, kita hanya boleh mendaftar sesuai dengan jenis masyarakat kita. Scientifique will be scientifique and socialize will be socialize. UI tidak pada umumnya. Sesuai dengan bunga tidurku, bagian Fisip UI memberikan semua golongan masyarakat untuk masuk. Bulls-eye.
Kesempatan telah memanggilku dengan keanggunannya. Aku merasa pantas untuk mengejar keindahan dan kenikmatannya. Ragu memang ada di dalam pikiran, tetapi keraguan berbuah tak ada saat ini. Aku membiarkan pikiranku berkelana ketika si pembawa berita sudah pergi. Memikirkan setiap kemungkinan. Hal ini pasti menyenangkan.
Kudatangi istana si pembawa berita, aku melibatkan diriku dalam hal ini. Aku mendapatkan potongan-potongan kertas yang harus kuisi dengan identitasku. Aku membawanya pulang. Aku berkata kepada Kekasih Ayah, Kekasih Ibu dan Kekasih Kakak. Mereka mengiyakan akan keputusanku tanpa ekspresi lebih. Siapa peduli. Aku mencari semua persyaratannya sendiri dan menyiapkannya dan dengan sedikit bantuan Kekasih Ayah, aku mampu mengumpulkan persyaratan-persyaratan pendaftaran tersebut esok paginya. Identitas, surat ini, surat itu, rapor, piagam, fotocopy blah blah blah. Aku telah menyiapkannya dengan seksama dan aku memilih FISIP Komunikasi sebagai targetku.
Seribu jalan menuju Roma. Kau bisa menggali tanah, jatuh dari langit, atau kau nisa bereinkarnasi dahulu untuk menjadi orang Roma. Untuk menjadi great Ambassador kita tidak harus belajar dahulu di jurusan Hubungan Internasional. Smart, good analizer, multiple tongues, Voila U can be Ambassador. The small bird also tells me that, Departemen Luar Negeri masih erat unsur nepotismenya dan peluang masuk kesana masih kecil untuk beberapa tahun ke depan. Dan aku mempunyai rencana yang lebih baik. Mahasiswa, Dosen, lalu jalur politik, rektor atau ambassador. How beautiful life it is! Jurusan komunikasi aku tepat bagi aku. Aku akan maksimalkan diriku di sana. Dan menunggu apa yang sudah aku punya dalam angan-angan menjadi kenyataan.
Diantara hari hariku yang kulalui, aku merasa takut, khawatir dan ragu. Aku membentuk diriku terlalu menggantungkan pada pmdk ini. Kebahagiaan apabila diterima di pmdk ini terlalu membuaiku. Aku khawatir, bagaimana bila tidak diterima ini, akan bagaimana relief-relief wajahku nanti? Gumpalan harapanku pasti akan pecah dan meracuni pembuluh darahku. Demam keraguan memperparah diriku dengan adanya orang-orang yang menebar omong kosong dalam telingaku.
Sembari menunggu jawaban dari sang penguasa, aku setia berdiri menunggu. Angin keraguan dan hujan ketakutan menerpaku, aku bertahan dan berpegang dengan Rosario dan Kekasih dan cinta-cintaku. Aku berterimakasih kepada teman-teman ku sesama pengejar mimpi yang membantu diriku untuk tenang. Heppy si pengejar Accountant/ Alchemist, Nio si pengejar Manager/ Superstar/ Zimbabwe President ( who we have plan that someday we made a company together), Chandra si pengejar Doctor/ Computist and all of my fellows yang membantu menjernihkan pikiran ketika aku mulai bingung dan ketakutan tak terkendali untuk menerima kenyataan yang akan datang. Ketulusan dan keikhlasan aku rasakan dari jamahan-jamahan suara kasihnya. Kalian baik adanya.
Satu bulan berlalu. Pengumuman yang berhari-hari belum kunjung datang membuatku hopeless. Aku sudah bersiap untuk meneruskan hidupku, mencari pesona kesempatan lain dan melupakan asa yang tersisa. Ternyata Tuhanku sang Gembala diriku, mencintaiku diriku. Aku dipanggil oleh sang Kepala Dunia, Bapak Widiarto. Ku datangi tempatnya ia berada dan dengan senyumnya yang meyakinkan dan dengan suaranya ia menyatakan aku lolos pmdk UI. Tuhan mewujudkan impianku.
Meledaklah diriku. Mulutku tidak bisa berhenti tersenyum. Nafasku tersengal-sengal akan kebahagian ini. Aku ingin melompat-lompat hingga aku bisa bergabung dengan kapas-kapas putih di langit. Aku gembira. Bahagia. Aku ingin berlari-lari membawa pita merah yang besar dan panjang melintasi padang rumput yang hijau sambil bersukaria. Andai ada segerombol kelompok sirkus melintas, aku pasti bergabung bergembira bersama. Aku sambut tangan-tangan penuh kasih sang Guru-Guru disertai sebingkis senyum. Aku ingin memeluk semua temanku. Aku ingin berbagi kebahagianku. Pengejar mimpi mengucapkan selamat kepadaku. Aku mencintai mereka. Aku ingin mengungkapkan kebahagianku bersama mereka, tetapi aku tak mau membuat mereka berpikir bahwa aku melambung terlalu jauh dari bumi. Tapi aku yakin mereka akan mengerti aku.
Itu adalah kado ulang tahun terbaik hingga saat ini. Enam hari sebelum ulang tahunku aku menerima rahmat dari sang Gembala yang aku sangat mencintainya. O God, my life is Urs. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Kekasih-Kekasihku. Dan Para Pengejar Mimpi yang aku tidak mau kehilangan.Semua yang aku anggap sahabat dirumah keduaku, semuanya. Teristimewa bagi kalian yang istimewa. U r my best.


6 komentar:
seperti apakah rasanya mendapat anugerah seperti itu?
btw, aku suka gaya bahasamu...
:)
Merci snaily, yach some part of me still doesnt believe it, some part of me feels excited, ,
hehe
Ho,ho,ho,,
tom,t0m,,km tu ambl k0munikasi kn?Kok m0 iktan sirkus sich...Hwe,he,he,,
ya,,cm it t0m what i can d0...
Qikt mrasakan kebahagiaan it dr ekspresimu wktu nrima pgmuman...
Btw,,jgn lupa utk mjdkan aq slh 1 akuntan di perusahaan mu n ni0 ya,,
he3...
Okewh dech bsuk q mw jadi dosen dulu hep, abis tu bru diriin p'usahaan, baru dech jadi ambassador lalu jadi rektor UI hahaha amin amin amin,
tunggu ajyah tgl maena
Agagagag...
congrats ya tom!!!
Aku jadi inget pas kamu abis dari ruang kepsek mulutmu ga bisa mingkem itu, menganga terus sambil senyum...
apa ga keju tom?
wkwkwkwkwkwkwkwkw...........
enak banget sih tooom...
kayak mulus banget jalan kamu....
pintu ketutup tapi nggak perlu kamu buka susah2 uda buka sendiri...
duuuh...jadi inget perjuanganku kemarin...perlu gedor2 tuh pintu...didorong2...dan akhirnya dibuka paksa...he9.
hwaaaaa.....iri.....boleh kan iri?
Poskan Komentar