Selasa, 18 November 2008

My Skul Life : Chapter One

Banishing The Doubt


It’s in the morning. Ketika aku sudah resmi menjadi siswa SMA N 1 Klaten dan sedang mengikuti MOS, aku dan beberapa siswa baru SMA N 1 Klaten dipanggil untuk diwawancarai. Kami bertanya-tanya ada apakah gerangan. Wawancara itu dilakukan di lab bahasa oleh dua orang guru sekolah tersebut. Tapi wawancara apa itu?
Ternyata wawancara itu berhubungan dengan seleksi penerimaan kelas program Imersi. Jauh hari sebelum itu aku sudah memutuskan untuk tidak mengambil program khusus apapun di SMA N 1 Klaten. Aku ingin berkarya di kelas reguler. No pressur. I have many chances to develop my skill, school is fun and other thoughts. Ketika wawancara berlangsung, aku mampu menjawabnya dengan baik. Aku kira bahasa Inggrisku cukup bagus. Sekedar untuk menjawab where do you live, tell me your family, atau do u like English,aku bisa. Tetapi ketika pertanyaan apakah aku mau masuk ke kelas Imersi diajukan, aku sempat ragu untuk menjawabnya. Aku telah membuat keputusan untuk masuk kelas reguler. Tetapi aku meminta waktu untuk mempertimbangkan pertanyaan itu dengan dalih akan bertanya kepada orang tuaku dahulu. Wawancara pun usai, hariku berlanjut. Tak lama hariku pun berakhir.
Hari terakhir MOS. Aku dan beberapa siswa dipanggil ke lab fisika. Kami pun beranjak meninggalkan ruangan menuju lab fisika. Di sana seorang guru bernama Val. Bambang menunggu. Beliau hendak menanyakan kepastian apakah kami (aku dan tiga orang siswa lainnya) ingin menjadi murid Immersi atau tidak. Pikiran demi pikiran kami lempar untuk didiskusikan bersama bapak Bambang. Keresahanku adalah ketidakpercayaaku pada program Immersi ini akan membawa kemajuan bagiku. Sebab ini tahun pertama bagi program Immersi. Sebagus apakah sih? Tidak ada jaminan. Aku takut aku hanya dijadikan tikus percobaan bagi sebuah eksperimen. Katanya pengajaran dalam bahasa Inggris akan dilakukan secara bertahap, biaya gedung dan bulanan sama dengan reguler. Akhirnya beliau bapak Bambang berhasil meyakinkan kami untuk masuk dalam program Immersi. Beliau berhasil mempersuade aku, dengan menjawab pertanyaanku, apakah aku dapat sukses di program Immersi SMA N 1 Klaten. Beliau menjawab, “Dapat!” dengan syarat aku harus bekerja keras. Tentu syarat itu mutlak tetapi waktu itu aku tidak berpikir sejauh itu. Aku tersugesti oleh bapak Bambang. Aku percaya akan kata-katanya. Entah mengapa pula, hatiku diam saja akan keputusan otakku. Tetapi aku berpikir di kelas Imersi mungkin aku juga bisa berkarya dan mengembangkan skillku. Aku berharap yang terbaik. Paling tidak aku sudah memegang perkataan beliau. Kusingkirkan ragu. Aku percaya God will guide me anywhere anytime. Kuambil kesempatan ini dan tak akan kusia-siakan, kataku dalam hati. Dan kami, aku, Nio, Mega, dan Fatma mengiyakan untuk menjadi siswa program Immersi SMA N 1 Klaten 2005/2006.
Tetapi sampai sejauh manakah aku dapat sukses di kelas ini? Aku harus mengartikan kata sukses terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan di atas.

0 komentar: