
Ujian Nasional sudah berakhir. Ujian sekolah sudah berlalu. Ujian praktek juga hampir selesai. Pada tanggal 7 Mei 2009, aku dan beberapa temanku yang butuh pelampiasan dan pelarian berencana akan melakukan tugas mulia yaiyu hang-out di hari libur (thung thing thung thing ” Hang Out di Hari Libur”). Kami hendak berenang pagi itu. Setelah membahas tempat berenabg yang akan didatangi, kami memilih untuk berenang di Cokro.
What a beautiful trip!! Suasana selama perjalanan begitu indah. Jalanan tidak terlalu ramai, pemandangan sawahnya bagus.
Tidak sampai setengah jam, kami sudah sampai di Cokro yang terletak di belakang SMP N 1 Tulung ( SMP 1 atau 2 ya, aku lupa hwehwe). Di spanduknya tertulis Kolam renang Ingas. Setelah membayar parkir sebesar dua ribu rupiing, kami masuk ke lokasi. Kami membeli tiket seharga tiga ribu rupiing. Aneh bin ajaibnya, kami tidak dikasih tiket masuk cuy. Jadi cuma bayar lalu masuk gitu doang. Masak tempat rekreasi sistemnya seperti itu sih?? Aku tanya ma temanku C***dra yang ikut pemilihan Mas dan Mbak Klaten. Katanya itu adalah tindakan korupsi yang sering terjadi di tempat ini. OMG! Padahal hari itu pengunjungnya banyak, walaupun bukan hari libur nasional.
Kami pun segera masuk ke lokasi melewati sebuah jembatan kayu dan tali dan kawat sepanjangnya. Jembatan bergoyang-goyang membuat kami agak takut tetapi seru. Sampai di lokasi, kami mulai mengobservasi dan menelaah tempat (iiiih... bahasanya).
Ada beberapa fakta mengenai tempat ini:
1. banyak penjual makanan dan minuman yang berjualan di dalam lokasi. Mereka berebut pengunjung agar memakai tikar yang mereka sediakan seharga dua ribu rupiing.
2. ada tiga bagian dari tempat ini, yang pertama adalah waterboom, yang hanya beroperasi di weekend saja (dan sayangnya hari itu bukan weekend, sial!tapi untung masih bisa foto-foto di kolam kosong...hwehwe). dan bagian yang kedua adalah kolam renang yang terlihat jarang dipakai dan kolam berarus yang sebenarnya hanyalah penggalan sungai. Dan bagian yang terakhir adalah sesuatu yang rahasia.
3. banyak orang berpacara di sini.
Setelah meletakkan barang-barang kami di tikar yang tidak gratis. Denga setengah hati yang kira-kira 130 gram, aku pun mulai strip my clothes in front of public eyes. Dan dengan setengah hati pula aku masuk ke kolam berarus tersebut. Agak illfeel, dan males ketika berenang di tempat ini. Disebabkan oleh karena yang bagaimana tadi ada ibu-ibu yang nyuci bajunya di sungai tersebut waktu kami datang ditambah waktu kami nyebur e e e e ada cowok yang hanya memakai celana dalam mandi di pinggir sungai. Keliatannya sih garang, banyak tattoo di lengan-lengannya tapi tetap cuci mukanya pakai sabun P*nds. Hiii aku jadi males sendiri gitoh. Ya setelah bermain ban, mencoba berenang dari hulu ke hilir , mencoba fasilitas jaccuzzi yang ada (beneran ada lo, jadi di bagian sumber airnya itu banyak menimbulkan gelembung-gelembung udara bertekanan tinggi dan butuh perjuangan besar agar kami bisa bertahan di tempat itu hwewe), kami pun keluar dari sunagi berair dingin tersebut.
Setelah berganti baju, kami pun mencoba mengobservasi tempat itu lebih jauh. Kami mencoba mendatangi tempat yang tidak kami ketahui sebelumnya, tempat bagian ketiga, sesuatu yang rahasia yang kami sebut ” The Lapak-Lapak”. Ceritanya sih kami sudah hendak pulang, tetapi kami curiga sebab ada pasangan muda-mudi yang berjalan dari jembatan masuk mengambil arah kiri, menuruni tangga, berbelok dan hilang di tengah rimbunnya pohon-pohon dan gemericik air sungai. Kami pun dengan wajah innocent mencoba mengulik kemana mereka pergi. Kami mencoba menyusuri sungai, ternyata disini ada warung-warung yang terlihat sepi, kami pun menerobosnya, berjalan lebih jauh dan OMG!!! A big surprise! WTF...! Seorang laki-laki bertelanjang dada keluar dari sebuah lapak, seperti sebuah kamar bertembokan kain yang dekil berukuran 2x2 m kali ya yang terletak di lereng sungai Cokro terseut. Laki-laki itu turun menghampiri penjual yang terletak dibawah lapak tersebut dan kembali masuk ke lapaknya. Dan tebak apa yang ada di pikiran kami, it’s A SEX PLACE.
I am speechless. Ada lebih dari sepuluh lapak-lapak seperti itu. Kata temanku, ketika pria itu keluar, ada seorang wanita di dalamnya. Dan setelah lebih jauh kuamati pria itu dengan confident memakai jeans tanpa dikaitkan buttonnya, jadi bahas jawanya motrok motrok metek metek terlihat Compact Discnya. Anjrit. Then we escaped from that place and started to analyze, apa benar pasangan muda yang membuat kami curiga itu juga hilang di tempat ini dan menempati salah satu lapak-lapak disini??? Dan dalam perjalanan pulang, kami mengamati lecih dari tiga pasangan muda hilang di rerimbuan pohon itu pula. Do they have s… on that place? Damn, it’s a big question.